Manusia yang Berbudaya adalah Cermin Karakter Bangsa
Kalau lewat Bunderan HI, pasti kita semua melihat baligo yang bertuliskan kalimat diatas dan dipajang gedegede, saya terinsight dengan tulisan ini karena hari ini saya ijin masuk kantor siang, Diandra harus ke dokter dulu, ada sesuatu dimatanya, dan ceritanya bermula di Rumah Sakit Pondok Indah, ketika antrian untuk bayar dikasir (tau sendiri kan antriannya panjang), ada foreigner yang dengan kebaikan hatinya memberikan jatah antrian tersebut kepada ibu-ibu yang sudah berumur dibelakangnya, dan dia bilang gini: Please Madam you may have the line, dan Ibu itu terperangah, dan foreigner itu bilang: It’s OK with me, and I’ll be more OK to stand behind you…, please (saya pun terharu, dan tersentak, sepertinya sudah lama saya tidak melakukan hal yang serupa)
Kejadian kedua, ketika turun ke basement saya pun menggandeng si kembar dengan kedua tangan saya, dan ada foreigner yang kebetulan 1 lift dan berjalan di depan saya, dan dengan ketulusan hatinya pun dia membukakan pintu basement untuk saya dan menunggu hingga rombongan saya keluar semua, dan saya pun mengucapkan Thank U dengan sepenuh hati, dan dia hanya mengangguk..
Bukankah itu bagian dari budaya…?? Budaya yang sepertinya sudah sangat sulit ditemukan pada orang Indonesia, dan saya benar-benar terpesona dibuatnya, lalu balik ke baligo tersebut, memangnya budaya apa yang ingin kita tonjolkan dan dicerminkan sebagai karakter bangsa..?? Courtesy…?? NO WAY HOLE WAY
Panjang ceritanya kalau sudah berbicara mengenai budaya, but I promise to my self to act like they did… start from now (amin..)
August 4th, 2006 at 6:45 am
Fen, aku juga mikir spt kamu..kita dikenal sbg bangsa yg berbudaya. Setidaknya ini yang diajarkan di sekolah. Trus bangsa kita adalah bangsa yang ramah tamah, gotong royong, tolerant, suka membantu. Tapi aku seringnya gak menemukan itu. Aku gak generalize ya karena ketika di yogya dulu aku menemukan hal yg bener2 spt yang diajarkan itu tadi. Dan ingat itu pun DULU, kata temanku sekarang beda Sondang… Kupikir ada yang kurang dalam kurikulum sekolah kita. Kita tidak diajarkan Social Ethics/Courtesy, yaitu bagaimana berperilaku atau bertindak tanduk di lingkungan masyarakat. Misalnya ya, tidak berbicara dengan teman di samping, di hp, atau siapapun ketika orang lain sedang bicara. Ini sering sekali ditemuin di suatu forum, atau seminar, atau kelas, yang menurutku sangat tidak menghargai pembicara. Trus contoh lain, menghormati orang yang lebih tua di tempat umum (dgn memberikan tempat duduk di angkutan umum). Atau seperti case kamu, mendahulukan ibu dan anak2 di lift atau tangga atau di depan pintu. Aku sering sekali menemukan kurangnya courtesy ketika hendak masuk/keluar lift. Seharusnya orang yang hendak keluar didahulukan. Tapi yang hendak masuk udah rebutan hendak masuk sebelum yang di dalam keluar. Waduhh..pusing kali…Mungkin aku gak akan hanya menyarankan social ethics ini ditambahkan ke dalam kurikulum, tapi juga dimulai dari pendidikan di rumah. Dan aku gak generalize semua orang indonesia karena aku juga menemukan banyak orang indonesia yang punya courtesy yang baik. Bener seperti baliho itu..manusia yang berbudaya mencerminkan karakteristik bangsa.