percakapan di suatu sore…
sebenernya…percakapan ini diawali dari ceritanya tesyong…dan kemudian disamber oleh kita semua, yang mebuat dua kubu, antara aku dan ben vs erlangga dan rizal, anyway I’d really like discussion hahaha, and I just want to put it in my blog…guys, i really miss you all, and the time we spent together, diskusi yang tidak pernah menyakitkan and I always found something new…
then, for my beloved twins, if you read the blog and 2 of you understand how the world is, you will understand the reason why i am working and how do I try to balance my career and my family, though there’s something that I have to bargain to myself.. I Love you my twinnies
sophianti < sophianti@yahoo. com <mailto:sophianti@yahoo. com> > wrote:
Dear all,
I have no excuse to resign from Astra. Tapi kmaren diajak temen untuk
apply ke Citibank, dan singkat cerita diterima. Nah, seperti biasa
I’m so confused nih. Dari segi gaji dan benefit memang lebih besar di
citibank, cuman work pressure nya I believe lebih berat dari Astra.
Dan sekarang
kan
I’m trying to conceive.
Kalo di Astra
kan
agak sedikit santai nih…Bisa pulang 4.30..Bisa
pergi dan pulang dalam satu mobil dengan suami.
Belum lagi apakah kerja di bank itu riba?
Guys I have to give the answer to citibank on monday morning.
Mudah2an ada yang buka yahoogroups dan kasih gw advice.
Rgds,
Tesya
citibaaaaaank! you need go global, tesya. masa sih takutnya sama beban kerja?
salam,
r
Semoga Tesya membaca email ini sebelum membuat keputusan.
CITIBANK! Go with CITIBANK! CITIBANK!
Why? Why not?
Always try something new. Changes are sometimes for the better.
We meet new people. Meet new challenges, deal with new transactions, new issues, etc etc.
Ini agak susah nih. Kita terkadang udah terlalu nyaman di posisi sekarang, sehingga males berubah. I can not comment on this. Only YOU know what YOU want and only YOU know how to get it.
Always,
Erlangga
tesya sayang….,
mudah-mudahan elu masih baca email ini sebelum memberi keputusan… (erlangga dan rizal maaf ya kalo jawabanku akan bertentangan dengan jawaban kalian)
tesy…, if i were u 3 years ago… i will take citibank and work globally (as your wish), but my situation would be different as from last 2 years …
tesya, ketika elu mempunyai anak dan melihat bagaimana mata anak elu mengantarkan elu pergi bekerja, atau elu pulang kerumah dan melihat anak-anak elu melonjak kegirangan mendengar bel rumahnya berbunyi pada jam 06.00, atau ketika elu melihat anak-anak elu lebih memilih memangil Mbak ketika mereka sedih, atau ketika Mbak-nya lebih update mengenai perkembangan mereka, dan banyak lagi alasan-alasan sebagai seorang Ibu yang membuat gue tetep stay dalam what so called "comfort zones"
Gue memang tidak berani mengambil keputusan seperti Ika-nya Erlangga yang memutuskan hanya part time job sampai dengan Bima berusia sekolah (iya bukan Ngga…??), atau Ella yang memutuskan jadi full time mother dan run her own business, that’s why i try to bargain with myself.
Tesy, ketika elu sudah menjadi Ibu, banyak yang memang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, go with citibank or stay with astra is a matter of choice, buat gue sampai detik ini, hidup adalah pilihan, ketika gue memilih untuk lebih memiliki waktu dengan anak-anak gue dan keluarga, gitu deh…
Apapun pilihan elu, jangan disesali, kita nggak mungkin kan mendapatkan semua keinginan kita
-fenny-
Dearest Fenny,
Fen thx banget untuk emailnya. Hiks..jadi terharu nih bacanya.
Iya emang betul Fen, kalo gw cowo mungkin ga akan terlalu bingung
untuk ngambil citibank. Atau mungkin kalo gw udah punya anak, gw ga
akan terlalu bingung untuk menolak citibank.
Nah, mungkin sekarang kesempatan ini dateng pas gw belum dikarunia
anak oleh Alloh, dan disinilah gw diuji oleh Alloh ya.
Seperti kata bos gw disini yang bilang ke gw (waktu gw cerita dan
discuss ama dia mengenai tawaran citibank ini): mungkin ini ujian
Tuhan supaya kamu lebih mensyukuri apa yang kamu dapatkan sekarang.
Thanks a lot for your advice Fen.
Rgds,
Tesya
On 8/14/06, Hödl Verania < Verania.Hoedl@ arcs.ac.at> wrote:
hiks..tesy, gw sih malah ikutan sedih doang baca emails kalian-kalian. .
engga bisa ngasih advice apa-apa..
lah gw sendiri aja masih seneng-seneng sorangan kesana kesini, bikin ini bikin itu…kadang kasian si Martin he hehe.. sampe gw kepikiran anak gw nati gw ajak travelling kemana-mana kali ya..si martin boleh ikutan kalau dia lagi ngambil cuti dari kantornya… see? gw kalau ngasih advice ke kamu malah jadi bikin kamu tambah bingung kali..
kayaknya mendingan gw ikutan mikir dari advice yang lain..what am I looking for actually in this life? -)
big hugs,
rr
Gue agak gak setuju kalau pilihan pekerjaan cuman didasarkan sama isu keglobalan, new chalanges, atau menghindari comfort zones. Gimana ya? Somehow, terlalu maskulin gitu, zal.
And, what’s wrong with comfort zone? Gue pikir kalau kita cukup banyak inisiatif, kita bisa buat tantangan -within our own comfort zone. Kita hidup biar bisa nyaman bukan? Bukan cuman nyaman karena merasa aman secara finansial atau karena karir kita progressing, tapi nyaman karena semobil dengan suami -keeping the romance alive, nyaman karena anak kita enggak pakai ‘obat’ ketika beranjak ABG, dan nyaman-nyaman lain yang gak ada hubungannya dengan karir.
So, whats wrong with it? Manusiawi
kan untuk hidup tidak terlalu industrialis -ketika hidup tidak diukur pake efektifitas dan efisiensi .. tapi pakai kebahagiaan. Efisiensi dan efektifitas cukup untuk perusahaan kita saja -keluarga dan pribadi kayaknya lebih butuh kebahagiaan.
Kembali ke Tesya, ngobrol sama suami, deh - lalu obrolin bareng cita-cita kalian berdua.
Lalu ukur sejauh mana kebutuhan ekonomi yang sudah tercapai, apa yang belum tercapai. Sejauh mana kebutuhan romance, masa depan anak, pendidikan formal dan moralnya, apa cita-cita kalian sebenernya? Sejauh mana elu punya waktu untuk kebutuhan yang belum tercapai?
Gue pikir hidup jangan di-guide sama ‘kesempatan’ .. lebih baik di-guide sama ‘cita-cita’, bukan? Baru cari kesempatan di dalam koridor cita-cita kita.
Salam sayang sama anak-anak kalian semua,
om benben
bapaknya anak2 pada kemana sih? hahahahahah. …. kan masih di the fastest pace of life. dan gini, kita
kan selalu lihat cara kita dibesarkan, 30-25 tahun lalu. lantas kita anggap itu yang paling baik. padahal, tiap generasi punya caranya sendiri dibesarkan. r
ya emang sih, tapi kita
tapi gini deh, hajar aja dulu Citibank. Kalau ntar mulai nggak tertahankan, soal anak, soal suami, dsb, ya udah keluar dan cari jalan lain. Life is going forward, dan jangan sampai nanti nyesel for not making a move this time, for something that you got away. pokoknya jangan mbulet di comfort zone.
Oh ya, citibank emang nolak gue. Di samping dulu juga gak niat2 amat –dan entah kenapa mereka khilaf sampai ke tahap terakhir wawancara Management Associate–, untung gak diterima. That kind of professional private sector life is simply not my thing. Jadi win-win lah gue dan citibank
inah, assistant VP citibank Phil, pindah tuh, sekolah, ambil s2, dapat chevening.
fenny dear, and you choose to sink into the comfort zone. the options are: comfort zone, or uncertain but challenging future. I opt the latter. :-))
r
On 8/14/06, fenny k. siregar <fenny_karlavita@ yahoo.com> wrote:
PROTES: It’s not the matter of comfort zones, it’s about the choices…yey. ..
Rizal Shidiq < rizalshidiq@ gmail.com> wrote:
bukan provokasi, cuma stand on my position :-). we’re too young to remain in our comfy zone. :-))
r
On 8/14/06, Hödl Verania < Verania.Hoedl@ arcs.ac.at> wrote:
provoke!!!!! ha haha..
Zal, fenny isn’t sinking in her comfort zone. She’s diving into it.
The different in sinking and diving are: one has no purpose (situation drag you to the bottom of the sea) and the other one has at least one purpose. I believe she has many, and I value those.
Sorry, men. Though I’m a ‘bapak-bapak’ - I have to go with the women and master card (remember the tagline of the ad?: there are somethings money cant buy, for everything else .. blah blah ..).
Lagian kalo ngomongin karir, gue dibesarkan sama orang tua yang dua-duanya bekerja (babeh gue cuman pulang seminggu sekali, kadang sebulan sekali karena kerja di luar
kota ). Gue dari jaman kelas 2 SD udah pegang kunci rumah sendiri. Pulang ke rumah jam 12 siang lalu tidur di teras (di balik pot pohon suplir, karena gak berani tidur di dalem rumah .. spooky). Pengalaman masa lalu tidak membuat gue melarang istri bekerja atau sebaliknya. Kita udah dididik cukup tinggi untuk bisa buat formula mengatur kehidupan sendiri -sesuai keinginan, kebutuhan, lingkungan, jaman dan kemampuan masing-masing keluarga.
Cuman ada satu hal yang tidak berubah dari jaman dulu: life needs nurturing. Kalo kita udah yakin bisa ‘nurture’ semua kehidupan di sekeliling kita .. well, "go get the world, honey!" … kalo belum … pikirkan ini: ‘carrier pursue’ is not always embedded in your DNA, ‘care for family’ is. If it’s in your gene, felt like dying if you lost it.
benben
feelinglikeachickmo od.
PS: dalam kasus rizal dan erlangga, ‘karir’ bukan lagi tertulis di DNA -written in the forehead more likely .. he he he ..
"Gaffar, Erlangga D. A." <erlangga_gaffar@ yahoo.com> wrote:
All,
Gue nggak tau apakah komentar gue masih relevan untuk Tesya, atau sekedar "panas" untuk berbalas pantun. Tapi nyenengin juga ada topik hangat untuk dibahas… Thanks to Tesya.
Sejauh ini Rizal, Erlangga vs Fenny, Ben and Rara. Rara agak netral sih
As for me, I want to balance life and career. Boleh percaya boleh tidak, gue udah nyiapin untuk pensiun umur 40. Semoga tercapai. Ika udah gue persiapkan, –tanpa bermaksud menjadikan dia obyek penderita. Dipersiapkan dalam arti positif dan tentu saja dengan persetujuannya.
Marketing kerjaannya sebagai arsitek gue bantu, komputer gue sediain, dsb dsb.
Bentar… bentar.. ngomong apa nih gue. Ngelantur. let me try to get back to topic.
Hmm…
Oh ya, comfort zone vs life in the fast lane. [maklum, masih jam 5 pagi]
As for me, gue juga seperti Fenny. Jauh dari keluarga menderita. Jauh dari anak, wuih… nggak karuan. Tapi ya gimana lagi. Gue pengin dia lebih dari ketika gue kecil. Some of you will say, "bagaimana dengan penginnya dia"?
Well, gue coba sediakan juga. Janji gue pada diri sendiri dan Bima adalah Sabtu dan Minggu adalah hari kita. Kita naik angkot, naik Busway, ke Mall berdua, beli hotdog, berenang, dsb dsb. Saturdays and Sundays is no email day. No office call. I will be serving my number one clients: Ika and Bima. Saturday and Sunday is my comfort zone. The rest is battle.
Careerwise, I still not improvements to be in a comfort zone.
Tanpa bermaksud gender (–paling ngeri urusan satu ini), bedanya gue ama Fenny adalah in the gender zone. So, Tesya.. what I say or Rizal might not apply to you.
BUT let’s get one thing straight….
Citibank tidak selamanya lho. You can walk away within a year or so. Jangan mengesankan bahwa setelah di Citibank, terjebak deh seumur hidup dan tidak bisa ke comfort zone elo ama suami.
Ok deh, gotta go to battle.
Always,
Erlangga
dan keputusannya adalah tesya memilih Citibank, hihihi, godd luck Tesy!!!